Aksi unjuk rasa di depan kantor DPRD Sumatera Utara (Sumut) Jalan Imam Bonjol, Medan, Selasa (26/8), berakhir ricuh. Aparat kepolisian yang berupaya membubarkan massa justru memicu perlawanan balik hingga situasi berubah menjadi bentrokan terbuka.

Kericuhan bermula saat aparat bergerak untuk membubarkan demonstran yang masih bertahan di depan gerbang DPRD. Massa, yang sebagian besar terdiri dari pelajar SMA dan SMK, menolak mundur. Mereka membalas dengan melempari batu ke arah polisi secara membabi buta. Suasana pun langsung berubah layaknya tawuran jalanan.

Dalam kondisi yang semakin panas, kepolisian menurunkan mobil water canon dan menyemprotkan air ke arah kerumunan massa. Namun semprotan air tidak membuat pendemo bubar. Justru, lemparan batu semakin deras menghujani aparat yang bersiaga di depan gedung DPRD.

Polisi kemudian menembakkan gas air mata berkali-kali. Kepulan asap putih mengepul di sekitar Jalan Imam Bonjol, membuat massa kalang kabut berlarian menyelamatkan diri. Aroma menyengat dan pedih di mata membuat banyak peserta aksi tumbang dan harus dievakuasi oleh rekan-rekannya.

Ironisnya, tembakan gas air mata juga menjangkau Lapangan Benteng yang berada tak jauh dari lokasi aksi. Saat itu, lapangan sedang dipadati masyarakat yang tengah berolahraga sore.

Tiba-tiba mereka panik dan berhamburan karena mata perih serta sulit bernapas akibat terpapar gas.Seorang warga yang ditemui di lokasi menyebutkan, ia sama sekali tidak tahu ada demo di DPRD.

"Saya lagi jogging, tiba-tiba asap putih masuk ke lapangan. Mata perih sekali, semua orang lari. Kami ini bukan pendemo, kenapa harus jadi korban?,” katanya dengan nada kesal.

Bentrok ini membuat kawasan Jalan Imam Bonjol dan sekitarnya ditutup total, lalu lintas macet parah. Pecahan batu, kayu, hingga sisa ban terbakar berserakan di jalan.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait jumlah korban maupun alasan penggunaan gas air mata yang menyasar hingga ke luar area aksi.

Belum ada juga pernyataan dari DPRD Sumut yang menjadi lokasi demonstrasi, meski massa sudah sejak awal menuntut agar wakil rakyat mau keluar menemui mereka.

Bagi mahasiswa dan pelajar yang turun ke jalan, aksi ini awalnya dimaksudkan untuk menyuarakan keresahan publik melalui Selusin Tuntutan Rakyat.

Namun, tidak adanya respons dari dewan dan sikap represif aparat membuat aksi tersebut berujung ricuh dan merugikan warga sipil yang tidak terlibat.

Hingga malam, ratusan aparat masih bersiaga dengan barikade ketat di sekitar kantor DPRD Sumut. Massa demonstran tercerai-berai, namun sebagian masih bertahan di titik-titik jalan sekitar.