Siang itu, Rabu (27/8), suasana di depan Gedung DPRD Sumut awalnya tampak biasa saja. Ratusan mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai Cipayung Plus Sumut berkumpul dengan atribut organisasi masing-masing.

Namun, dari awal terlihat jelas aksi ini tak memiliki arah yang kuat. Tak ada selebaran berisi tuntutan, tak ada dokumen yang mengurai masalah nasional ataupun isu spesifik di Sumut.

Beberapa mahasiswa yang ditemui wartawan bahkan kebingungan saat ditanya tujuan aksi. "Saya ikut kawan-kawan saja bang," ujar seorang peserta dengan polos.

Minimnya konsolidasi tampak dari cara massa berbaris. Mereka terlihat tercerai-berai, tidak ada komando yang jelas. Mobil komando yang biasanya menjadi pusat instruksi malah dipenuhi orasi kosong.

Kata-kata yang disampaikan lebih banyak retorika tanpa isi. Bahkan, sesekali terdengar makian kasar keluar dari pengeras suara. "Polisi anjing!" teriak seorang orator.

Ucapan itu kontan membuat wajah aparat berubah tegang. Keributan yang sebenarnya tidak perlu, justru dipicu oleh lemahnya kontrol di tubuh Cipayung Plus sendiri.

Ironisnya, ketika azan Ashar berkumandang, massa aksi tetap meneriakkan orasi. Tidak ada penghentian sementara, tidak ada penghormatan pada suasana.

Justru, sebagian dari mereka mulai melempari aparat dengan tomat busuk. Provokasi inilah yang kemudian menyulut amarah kepolisian.

Aparat yang sebelumnya bertahan akhirnya merespons. Barisan polisi mulai mendorong massa. Dari halaman Gedung DPRD Sumut, water canon dikeluarkan.

Kepanikan pecah. Massa berlarian ke berbagai arah. Ada yang lari ke Jalan Kapten Maulana Lubis menuju Kantor Wali Kota Medan, ada yang menyeberang ke Lapangan Benteng untuk menghindari kepungan.

Namun barisan aparat yang berlapis membuat banyak mahasiswa tak berkutik.bBeberapa orang berhasil ditangkap. Di antara yang diamankan adalah Ketua IMM Sumut, Rahmad Taufik Pardede.

Penangkapan ini sontak membuat situasi semakin panas. Namun belakangan, setelah suasana mereda, pihak kepolisian diketahui telah melepaskan kembali mahasiswa yang ditangkap tersebut.

Fakta bahwa massa yang ditangkap segera dilepas memperlihatkan bahwa kepolisian pun tampaknya memahami akar persoalan bukanlah kriminalitas, melainkan buruknya manajemen aksi.

Namun tetap saja, kericuhan telah telanjur menodai wajah gerakan mahasiswa di Sumut. Minimnya manajemen aksi Cipayung Plus terlihat sejak awal.

Tanpa substansi yang jelas, tanpa arah tuntutan yang konkret, serta lemahnya komunikasi internal membuat massa mudah terpancing provokasi. Mereka datang bukan dengan gagasan, melainkan sekadar ikut-ikutan.

Tak heran jika aksi ini berakhir ricuh. Polisi memang bersikap represif, namun pemantik awal berasal dari kelemahan internal mahasiswa itu sendiri.

Aksi yang seharusnya menjadi wadah artikulasi intelektual justru berubah menjadi tontonan ricuh tanpa nilai perjuangan.

Sebagai jurnalis yang meliput langsung di lapangan, catatan ini sulit dihindarkan, Cipayung Plus kehilangan roh gerakan moralnya. Mahasiswa yang mestinya tampil sebagai suara nurani publik justru memperlihatkan kegagapan.

Alih-alih menekan pemerintah dengan argumen, mereka justru memancing kericuhan dengan makian dan tomat busuk.bGerakan mahasiswa Sumut kini menghadapi krisis kepercayaan.

Jika aksi seperti ini terus berulang, bukan tidak mungkin masyarakat akan semakin skeptis. Mahasiswa bisa dipandang bukan lagi sebagai agen perubahan, melainkan sekadar massa jalanan yang kehilangan substansi.

Penulis adalah Wartawan Waspada Online